Senin, 29 Oktober 2012

caput succedaneum



A.      Caput Succedaneum
1.    Pengertian Caput Succedaneum
Caput succedaneum ini ditemukan biasanya pada presentasi kepala, sesuai dengan posisi bagian yang bersangkutan. Pada bagian tersebut terjadi oedema sebagai akibat pengeluaran serum dari pembuluh darah. Caput suksedaneum tidak memerlukan pengobatan khusus dan biasanya menghilang setelah 2-5 hari. (Prawirohardjo, 2006).
Kejadian caput succedaneum pada bayi sendiri adalah benjolan pada kepala bayi akibat tekanan uterus atau dinding vagina dan juga pada persalinan dengan tindakan vakum ekstraksi. (Saifuddin, 2001).
Caput suksedaneum adalah Kelainan ini akibat sekunder dari tekanan uterus atau dinding vagina pada kepala bayi sebatas caput. Keadaan ini dapat pula terjadi pada kelahiran spontan dan biasanya menghilang dalam 2-4 hari setelah lahir. Tidak diperlukan tindakan dan tidak ada gejala sisa yang dilaporkan. (Prawirohardjo, 2007).
Caput Succedaneum adalah benjolan yang membulat disebabkan kepala tertekan leher rahim yang saat itu belum membuka penuh yang akan menghilang dalam waktu satu dua hari.
2.     Penyebab
Kaput suksedaneum terjadi karena adanya tekanan yang kuat pada kepala pada saat memasuki jalan lahir sehingga terjadi bendungan sirkulasi perifer dan limfe yang disertai dengan pengeluaran cairan tubuh ke jaringan ekstravaskuler. Keadaan ini bisa terjadi pada partus lama atau persalinan dengan Vaccum ektrasi. (Dewi, 2010)
3.    Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi terjadinya trauma lahir antara lain :
a.         Makrosomia
b.         Prematuritas
c.         disproporsi sefalopelvik
d.        Distosia
e.         persalinan lama
f.          persalinan yang diakhiri dengan alat (ekstraksi vakum dan forceps)
g.         persalinan dengan sectio caesaria
h.         kelahiran sungsang
i.           presentasi bokong
j.           presentasi muka
k.         kelainan bayi letak lintang
4.    Gejala
a.         Udema di kepala
b.         Terasa lembut dan lunak pada perabaan
c.         Benjolan berisi serum dan kadang bercampur dengan darah
d.        Udema melampaui tulang tengkorak
e.         Batas yang tidak jelas
f.          Permukaan kulit pada benjolan berwarna ungu atau kemerahan
g.         Benjolan akan menghilang sekitar 2-3 minggu tanpa pengobatan (Dewi, 2010)
5.    Patofisiologis
Kelainan ini timbul karena tekanan yang keras pada kepala ketika memasuki jalan lahir sehingga terjadi bendungan sirkulasi kapiler dan limfe disertai pengeluaran cairan tubuh ke jaringan extravasa. Benjolan caput ini berisi cairan serum dan sering bercampur dengan sedikit darah. Benjolan dapat terjadi sebagai akibat bertumpang tindihnya tulang kepala di daerah sutura pada suatu proses kelahiran sebagai salah satu upaya bayi untuk mengecilkan lingkaran kepalanya agar dapat melalui jalan lahir. Umumnya moulage ini ditemukan pada sutura sagitalis dan terlihat segera setelah bayi lahir. Moulage ini umumnya jelas terlihat pada bayi premature dan akan hilang sendiri dalam satu sampai dua hari. (Markum, 1991)
6.    Komplikasi
a.         Infeksi
       Infeksi pada caput succedaneum bisa terjadi karena kulit kepala terluka. (kosim, 2003)
b.         Ikterus
       Pada bayi yang terkena caput succedanieum dapat menyebabkan ikterus karena inkompatibilitas faktor Rh atau golongan darah A, B, O antara ibu dan bayi. (Kosim, 2003)
c.         Anemia
       Anemia bisa terjadi pada bayi yang terkena caput succedanieum karena pada benjolan terjadi perdarahan yang hebat atau perdarahan yang banyak.
7.    Penatalaksanaan
a.         Perawatan bayi sama dengan  perawatan bayi normal.
b.         Pengawasan keadaan umum bayi.
c.         Berikan lingkungan yang baik, adanya ventilasi dan sinar matahari yang cukup.
d.        Pemberian ASI yang adekuat, bidan harus mengajarkan pada ibu teknik menyusui dengan benar.
e.         Pencegahan infeksi harus dilakukan untuk menghindari adanya infeksi pada benjolan.
f.          Berikan konseling pada orang tua, tentang:
1)   Keadaan trauma yang dialami oleh bayi;
2)   Jelaskan bahwa benjolan akan menghilang dengan sendirinya setelah sampai 3 minggu tanpa pengobatan.
3)   Perawatan bayi sehari-hari.
4)   Manfaat dan teknik pemberian ASI.

Tidak ada komentar: