Selasa, 21 Oktober 2014

Proses Oogonium dan spermatogonium


 By : Ratih Hermas Purnasari
Bahan Ajar KR SMK Keperawatan kelas 2 semester III


a.    Oogenesis
Oogenesis merupakan proses pembentukan dan perkembangan sel ovum. Proses oogenesis dipengaruhi oleh beberapa hormon yaitu :
1)        Hormon FSH yang berfungsi untuk merangsang pertumbuhan sel-sel folikel sekitar sel ovum
2)        Hormon estrogen yang berfungsi merangsang sekresi hormon LH
3)        Hormon LH yang berfungsi merangsang terjadinya ovulasi (yaitu proses pematangan sel ovum)
4)        Hormon progesteron yang berfungsi untuk menghambat sekresi FSH dan LH

Di dalam ovarium janin sudah terkandung sel pemula atau oogonium. Oogonium akan berkembang menjadi oosit primer. Saat bayi dilahirkan oosit primer berada dalam fase profase, pada pembelahan meiosis. Oosist primer kemudian mengalami masa istirahat hingga masa pubertas

Pada masa pubertas terjadilah oogenesis. Oosit primer membelah secara meiosis, menghasilkan 2 sel yang berbeda ukurannya. Sel yang lebih kecil, yaitu badan polar pertama membelah lebih lambat, membentuk 2 badan polar. Sel yang lebih besar yaitu, oosit sekunder, melakukan pembelahan meiosis kedua yang menghasilkan ovum tunggal dan badan polar kedua. Ovum berukuran lebih besar dari badan polar kedua.
Hormon berpengaruh dalam oogenesis. Kelenjar hipofisis menghasilkan hormon FSH yang merangsang pertumbuhan sel-sel folikel di sekelilinh ovum. Ovum yang matang diselubungi oleh sel-sel folikel yang disebut folikel de graaf, folikel ini menghasilkan hormon estrogen. Hormon estrogen merangsang kelenjar hipofisis untuk mensekresi hormon LH, yang akan merangsang terjadinya ovulasi. Selanjutnya folikel yang sudah kosong dirangsang oleh LH untuk menjadi korpus luteum. Korpus luteum kemudian menghasilkan hormon progesteron yang berfungsi menghambat sekresi FSH dan LH. Kemudian korpus luteum mengecil dan hilang, sehingga akhirnya tidak membentuk progesteron lagi, akibatnya FSH mulai terbentuk kembali, proses oogenesis mulai kembali.
b.    Spermatogonium
Pada laki-laki spermatogenesis terjadi seumur hidup, dan pelepasan spermatozoa dapat terjadi setiap saat. Tiap spermatozoon terdiri atas tiga bagian yaitu kaput, atau kepala yang berbentuk lon­jong agak gepeng dan mengandung bahan nukleus, ekor, dan bagian yang silindrik menghubungkan kepala dengan ekor. De­ngan getaran ekornya spermatozoon dapat bergerak cepat.
Dalam pertumbuhan embrional sper­matogonium berasal dari sel‑sel primitif tubulus‑tubulus testis. Setelah janin dila­hirkm, jumlah spermatogonium yang ada tidak mengalami perubahan hingga masa pubertas tiba. Pada masa pubertas sel spermatogonium tersebut di bawah pe­ngaruh sel‑sel interstisial Leydig mulai aktif mengadakan mitosis, dan terjadilah spermatogenesis yang amat kompleks itu.
Tiap spermatogonium membelah dua dan menghasilkan spermatosit pertama.Sper­matosit pertama ini membelah dua dan menjadi dua spermatosit kedua; spermato­sit kedua membelah dua lagi tetapi dengan hasil bahwa dua spermatid masing‑masing memiliki jumlah kromosom setengah dari jumlah yang khas untuk jenis itu. Dari spermatid ini kemudian tumbuh spermatozoon.

Urutan pertumbuhan sperma (spermatogenesis) :
1)        Spermatogenium, membelah dua;
2)        Spermatosit pertama, membelah dua;
3)        Spermatosit kedua, membelah dua;
4)        Spermatid, kemudian tumbuh menjadi:
5)        Spermatozoon (sperma)


Tidak ada komentar: