Selasa, 14 Oktober 2014

RBK TTV


PERSIAPAN BIMBINGAN PRAKTIK KLINIK


1.      Identitas Mata Kuliah
Mata Kuliah                                  : Kebutuhan Dasar Manusia
Pokok Bahasan                             : Pemeriksaan Tanda-tanda Vital
Sub Pokok Bahasan                      : Pengukuran Tanda-tanda Vital
Beban Studi                                  : 4 SKS (2 T; 2 P)
Penempatan                                   : Semester II
Waktu Pertemuan                         : 55 menit
Hari/Tanggal                                 : Minggu, 30 Juni 2013
Ruang                                            : Cempaka
Pembimbing                                  : Ratih Hermas Purnasari, Amd. Keb

2.      Tujuan Pembelajaran
A.  Tujuan Pembelajaran Umum  
Setelah menyelesaikan bimbingan klinik ini diharapkan mahasiswa mampu melaksanakan pemeriksaan tanda-tanda vital.
B.  Tujuan Pembelajaran Khusus             
Setelah mengikuti bimbingan klinik ini mahasiswa akan dapat :
1)        Menjelaskan pengertian pemeriksaan tanda-tanda vital dengan benar
2)        Menjelaskan macam-macam pemeriksaan tanda-tanda vital
3)        Menjelaskan persiapan alat untuk pemeriksaan tanda-tanda vital
4)        Melakukan komunikasi terapeutik
5)        Memberikan rasa nyaman pada pasien
6)        Melakukan dokumentasi dengan benar

3.      Deskripsi Kasus
Mahasiswa N sudah 1 minggu praktek di RSUD Ambarawa dengan kompetensi kebutuhan dasar manusia. Mahasiswa N mengelola pasien Nn. A  yang dimulai dengan melakukan pengkajian data terlebih dahulu baik secara langsung pada klien maupun berdasarkan rekam medik yang ada. Setelah didapatkan data secara lengkap kemudian mahasiswa N merumuskan diagnosa dan masalah yang ditemukan yaitu keadaan pasien yang lemah karena post operasi pemasangan pen pada kaki. Berdasarkan data yang diperoleh, maka mahasiswa N akan melakukan tindakan pemantauan keadaan umum dengan pengukuran TTV. TTVyang selalu dimonitor diharapkan dapat membantu dalam mendeteksi secara dini serta mengantisipasi adanya gangguan yang lebih lanjut yang mungkin dialami Nn. A.
Mahasiswa sudah mampu melakukan TTV secara mandiri dengan alat yang dibawanya, tetapi dari segi koqnitif masih kurang. Pemeriksaan TTV adalah hal yang rutin dilakukan pada ruang cempaka pada setiap pagi, siang dan malam. Hal ini dimaksud untuk memantau perkembangan pada setiap pasien. Berdasarkan kontrak belajar mahasiswa ingin mencapai kompetensi (belajar) tentang tindakan untuk memeriksa tanda-tanda vital pada Nn. A.  Pembimbing meminta mahasiswa menyiapkan diri untuk bimbingan berupa pembelajaran praktik pemeriksaan tanda-tanda vital.
 

4.        RINCIAN KEGIATAN
No
Kompetensi
Jenis kegiatan
Waktu
Metode
Hasil yang diharapkan
1.
Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian dan macam-macam pemeriksaan tanda-tanda vital




Mahasiswa mampu menjelaskan persiapan alat untuk pemeriksaan tanda-tanda vital
























Mahasiswa mampu melakukan komunikasi terapeutik




Mahasiswa mampu memberikan rasa nyaman pada pasien




Mahasiswa mampu melakukan tindakan pemeriksaan tanda-tanda vital

Mahasiswa mampu melakukan dokumentasi tindakan yang telah dilakukan
1.      Mahasiswa menjelaskan pengertian pemeriksaan tanda-tanda vital
2.      Mahasiswa menjelaskan macam-macam pemeriksaan tanda-tanda vital (review) mulai dari penegertian, tujuan, interpretasi hasil pemeriksaan normal dan abnormal, metode pemeriksaan

1.     Menjelaskan persiapan alat untuk pemeriksaan tanda-tanda vital

2.     Menjelaskan kegunaan dari masing-masing alat
3.     Menyiapkan alat-alat pemeriksaan tanda-tanda vital


















4.     Memeriksa kelengkapan alat


1.    Berkomunikasi dengan pasien

2.    Menjelaskan prosedur tindakan yang akan dilakukan dengan bahasa yang dimengerti pasien


1.     Melakukan tindakan dengan hati-hati, cekatan dan tidak membahayakan pasien

2.     Melatakkan alat pemeriksaan secara ergonomis

Melakukan tindakan pemeriksaan tanda-tanda vital dimulai dari pengukuran suhu, tekanan darah, denyut nadi dan pernapasan

Mahasiswa mendokumentasikan tindakan yang telah dilakukan
5 menit


15 menit





2 menit


5 menit

5 menit



















2 menit


2 menit

2 menit




1 menit



1 menit


10 menit




5 menit
Pre conference


Pre conference





Pre conference


Pre conference

Ronde keperawatan


















Ronde keperawatan

Bedside teaching
Ronde keperawatan



Ronde keperawatan


Ronde keperawatan

Ronde keperawatan



Post conference



1.    Mahasiswa menjelaskan pengertian pemeriksaan tanda-tanda vital
2.    Mahasiswa menjelaskan macam-macam pemeriksaan tanda-tanda vital



1.    Mahasiswa menjelaskan persiapan alat untuk pemeriksaan tanda-tanda vital
2.    Mahasiswa menjelaskan kegunaan dari masing-masing alat
3.    Mahasiswa menyiapkan alat pemeriksaan tanda-tanda vital yaitu :
a.    termometer dan tempatnya
b.    botol berisi larutan sabun
c.    botol berisi larutan lisol 5 %, didalamnya diberi alas kain kasa/kapas
d.   botol berisi air bersih, didalamnya diberi alas kain kasa/kapas
e.    tissue dalam tempatnya
f.     buku catatan dan alat tulis
g.    bengkok
h.    stetoskop
i.      spigmomanometer air raksa atau aneroid dengan balon udara dan manset
j.      buku catatan dan alat tulis
k.    arloji
4.    Mahasiswa memeriksa kelengkapan alat

1.    Klien mengerti atas penjelasan yang diberikan mahasiswa
2.    Mahasiswa menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan dengan benar sehingga klien bersedia untuk mendapatkan tindakan

1.      Pasien merasa aman dan nyaman pada waktu pemeriksaan


2.      Alat-alat diletakkan secara ergonomis

Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital dengan tepat dengan kriteria hasil (sesuai checklist)

Mahasiswa melakukan dokumentasi tindakan yang telah dilakukan





5.        Evaluasi
Prosedur                               : Pada saat pre conference, ronde dan post conference
Jenis tes                                :  Lisan dan Performance test
Bentuk                                 :  Essay dan observasi
Alat Test                              : Lembar evaluasi/checklist (terlampir)

6.        Referensi
Ambarwati & Sunarsih. (2009). KDPK Kebidanan Teori dan Aplikasi. Yogyakarta : Nuha Medika
Baston dkk. (2011). Midwifery Essentials Praktik Dasar. Jakarta : EGC
Asfuah. (2012). Buku Saku Klinik untuk Keperawatan dan Kebidanan. Yogyakarta : Nuha medika

7.        Lampiran
Lampiran 1 : Materi
Lampiran 2 : Checklist

 
Lampiran 1
MATERI
PEMERIKSAAN TTV

A.      TANDA-TANDA VITAL

Tanda vital merupakan salah satu pemeriksaan penting karena mempunyai nilai akurasi yang sangat tinggi. Tiap individu mempunyai variasi tanda vital yang berbeda dan sedikit banyak dipengaruhi oleh adanya perubahan cuaca, umur, keadaan emosional, olahraga dan makan. Pemeriksaan tanda vital memberikan banyak gambaran mengenai fungsi kerja sistem tubuh seperti pernapasan, kardiovaskuler dan metabolisme tubuh. Suhu tubuh menunjukkan keadaan metabolisme dalam tubuh, denyut nadi menunjukkan perubahan pada sistem kardiovaskuler, frekuensi pernapasan menunjukkan fungsi pernapasan dan tekanan darah menilaikemampuan sistem kardiovaskuler yang dapat dikaitkan dengan denyut nadi (Asfuah, 2012).
Semua tanda vital tersebut saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Perubahan tanda vital dapat terjadi bila tubuh dalam kondisi aktivitas berat atau dalam keadaan sakit, serta perubahan tersebut merupakan indikator adanya gangguan sistem tubuh. Pemeriksaan tanda vital yang dilaksanakan oleh perawat digunakan untuk memantau perkembangan pasien. Tindakan ini bukan hanya merupakan kegiatan rutin pada pasien, akan tetapi merupakan tindakan pengawasan terhadap perubahan atau gangguan sistem tubuh. Pelaksanaan pemeriksaan tanda vital pada semua pasien berbeda satu dengan yang lain. Tingkat kegawatan pasien seperti pada kondisi pasien kritis akan membutuhkan pengawasan terhadap tanda vital yang lebih ketat dibanding pada kondisi pasien yang tidak kritis, demikian sebaliknya. Prosedur pemeriksaan tanda vital yang dilakukan pada pasien meliputi pengukuran suhu, pemeriksaan denyut nadi, pemeriksaan pernapasan dan pengukuran tekanan darah (Asfuah, 2012).

B.       TEKANAN DARAH

1.      Pengertian
Tekanan darah adalah kekuatan yang diaplikasikan oleh darah pada dinding pembuluh darah (Baston, dkk, 2011).
Tekanan darah adalah kekuatan yang mendorong darah terhadap dinding arteri (Asfuah, 2012).
2.      Tujuan
Tujuan mengukur tekanan darah adalah mengetahui keadaan hemodinamik klien dan keadaan kesehatan menyeluruh
3.      Faktor yang mempengaruhi tekanan darah
Faktor-faktor yang menentukan tekanan darah : tolakan periferal, gerakan memompa jantung, volume darah, kekentalan darah, elastisitas dinding pembuluh darah. Faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya tekanan darah pada orang yang sehat ialah : usia, jenis kelamin, aktivitas dan emosi.
4.      Interpretasi tekanan darah normal dan abnormal
Panduan NHLBI National Heart, Lung, and Blodd Institute (NHLBI) dari National Institute of Health (NIH) yang baru sekarang mendefinisikan tekanan darah normal sebagai berikut : tekanan darah sistolik kurang dari 120 mmhg dan tekanan darah diastolik kurang dari 80 mmhg. Namun angka-angka ini harus digunakan sebagai pedoman saja.
5.      Lokasi pengukuran tekanan darah
Lengan,sebaiknya lengan kiri karena dekat dengan jantung dan hindari penempatan manset pd lengan yg terpasang infus, terpasang shun arterivena, lenan yg mengalami fistula, trauma dan tertutup gip/balutan
Pergelangan kaki bagian atas
6.      Alat pengukuran tekanan darah
Alat-alat yang harus disiapkan untuk melaksanakan pengukuran tekanan darah adalah baki yang berisi :
a.    Stetoskop
b.    Spigmomanometer air raksa atau aneroid dengan balon udara dan manset
c.    Buku catatan dan alat tulis
d.   Bengkok
7.      Metode pengukuran tekanan darah
a.    Mendekatkan alat ke samping klien
b.    Menjelaskan tindakan yang akan dilakukan
c.    Mencuci tangan dan memakai sarung tangan
d.   Mengatur posisi klien : duduk atau berbaring yang nyaman dengan lengan tersokong setinggi jantung dan telapak tangan menghadap keatas
e.    Membuka pakaian yang menutupi lengan atas
f.     Membalutkan kantong tensimeter pada lengan atas kira-kira 3 cm diatas fossa cubiti, dengan pipa karet diletakkan disebelah luar lengan, dibalutkan tetapi jangan terlalu kencang
g.    Memakai stetoskop
h.    Meraba detik arteri brakhialis dengan ujung jari tengah dan jari telunjuk. Pasien tidak diperkenankan menggenggamkan atau mengepalkan tangannya
i.      Meletakkan piringan stetoskop diatas arteri brakhialis tadi
j.      Mengunci scrup balon karet
k.    Memompakan udara kedalam kantong dengan cara memijit balon berulang-ulang, akan terlihat air raksa didalam pipa naik, dipompa terus sampai denyut arteri tidak terdengar lagi
l.      Membuka scrup balon dan menurunkan tekanan dengan perlahan-lahan
m.  Mendengar dengan teliti dan memperhatikan sampai angka berapa pada skala mulai terdengar denyut pertama dan mencatat sebagai tekanan sistol
n.    Meneruskan dengan membuka skrup tadi perlahan-lahan sampai suara nadi terdengar lambat dan menghilang, dicatat sebagai tekanan diastol
o.    Membuka kantong karet, digulung dengan rapi dan dimasukkan dalam kotak, kemudian ditutup
p.    Merapikan pasien
q.    Menyimpan tensimeter dan stetoskop pada tempatnya
r.     Membereskan alat
s.     Mencuci tangan
t.     Mendokumentasikan dalam catatan perawat
Perhatian :
-       Dorong klien untuk menghindari latihan dan merokok selama 30 menit sebelum pengukuran
-       Bila akan mengulang prosedur pengukuran, tunggu 30 detik

C.      NADI
1.    Pengertian
Denyut nadi merupakan denyutan atau dorongan yang dirasakan dari proses pemompaan jantung. Denyut nadi (pulse) adalah getaran/ denyut darah didalam pembuluh darah arteri akibat kontraksi ventrikel kiri jantung
2.    Tujuan
Tujuan menghitung denyut nadi adalah :
a.         Mengetahui keadaan umum pasien
b.        Mengetahui fungsi jantung secara dini
c.         Mengetahui / mengikuti perkembangan jalannya penyakit
d.        Membantu menentukan salah satu penyokong diagnosa
3.    Faktor yang mempengaruhi nadi
Faktor yang mempengaruhi denyut nadi adalah emosi , nyeri, aktivitas dan obat-obatan, cemas/stres, penyakit trutama penyakit cardio vascular, suhu, aktifitas/olah raga, makanan dan minuman, umur dan jenis kelamin
4.    Interpretasi nadi normal dan abnormal
a.       Pulsus defisit: Kecepatan denyut jantung lebih tinggi dari kecepatan denyut nadi.
b.      Takikardia: Denyut jantung lebih tinggi dari normalnya. (Pada keadaan hypertamia, aktivitas tinggi, cemas, miokarditis, gagal jantung, dehidrasi, dll)
c.       Brakikardia: Denyut jantung lebih lambat dari normal.
d.      Pulsus alternans: Denyut nadi yang bergantian kuat-lemah dan kemungkinan menunjukkan gagal jantung.
e.       Hipertamia dapat meningkatkan denyut nadi sebanyak 15-20 kali / menit, setiap peningkatan suhu 1 derajat C.
f.       Usia 14-18 tahun, frekuensi rata-rata nadi adalah 82x/menit
5.    Lokasi pengukuran nadi
a.    Arteri radialis
Terletak sepanjang tulang radialis, lebih mudah teraba diatas pergelangan tangan pada sisi ibu jari. Relatif mudah dan sering dipakai secara rutin
b.    Arteri Brakialis
Terletak di dalam otot biceps dari lengan atau medial di lipatan siku (fossa antekubital). Digunakan untuk mengukur tekanan darah dan kasus cardiac arrest pada infant
c.    Arteri Karotis
Terletak dileher dibawah lobus telinga, dimana terdapat arteri karotid berjalan diantara trakea dan otot sternokleidomastoideus. Sering digunakan untuk bayi, kasus cardiac arrest dan untuk memantau sirkulasi darah ke otak
d.   Arteri poplitea : Terletak pada belakang lutut
e.    Arteri dorsalis pedis atau arteri tibialis posterior pada kaki
6.    Alat pengukuran nadi
a.    Alat penghitung denyut nadi (arloji) yang mempunyai jarum detik
b.    Buku catatan dan alat tulis
7.    Metode pengukuran nadi
a.    Mendekatkan alat ke samping klien
b.    Menjelaskan tindakan yang akan dilakukan
c.    Mencuci tangan
d.   Atur posisi yang nyaman : duduk atau berbaring dengan posisi tangan rileks
e.    Letakkan ujung jari-jari tangan kecuali ibu jari pada arteri atau nadi yang akan diukur, tekan dengan lembut
f.     Saat denyutan teratur, mulai menghitung frekuensi denyut, dengan menggunakan jam tangan berjarum detik
g.    Jika denyutan teratur, hitung selama 30 detik dan kalikan hasilnya dengan 2. Apabila denyut tidak tertur dan pada pasien yang baru pertama kali dilakukan pemeriksaan, hitung selama satu menit penuh
h.    Membereskan alat
i.      Mencuci tangan
j.      Mendokumentasikan pada catatan perawat
Prosedur perhitungan :
hitung nadi selama 1 menit bila perhitungan selama 15 detik maka dikalikan 4 (empat) bila pertingan selama 30 menit maka dikalikan 2 (dua) perhitungan perkalian hanya dilakukan pada frekuensi nadi yang teratur.

D.      SUHU
1.    Pengertian
Suhu tubuh merupakan hasil keseimbangan antara produksi panas dan hilangnya panas dari tubuh ke lingkungan (Asfuah, 2012).
2.    Tujuan
Tujuan mengukur panas badan adalah :
a.    Mengetahui suhu badan pasien
b.    Mengetahui adanya kelainan pada tubuh
c.    Dipergunakan sebagai salah satu penyokong dalam membantu menentukan diagnosa
d.   Mengetahui perkembangan penyakit
3.    Pusat produksi dan hilangnya panas tubuh
a.    Produksi panas yang dihasilkan tubuh antara lain berasal dari :
1)   Metabolisme dari makanan (Basal Metabolic Rate)
2)   Olahraga
3)   Shivering atau kontraksi otot skelet
4)   Peningkatan produksi hormon tiroksin (meningkatkan metabolisme seluler)
5)   Proses penyakit infeksi
6)   Termogenesis kimiawi (rangsangan langsung dari norepinefrin dan efinefrin atau dari rangsangan langsung simpatetik)
b.    Proses hilangnya panas tubuh :
1)   Radiasi
adalah pemindahan panas dari satu benda ke benda lain tanpa melalui kontak langsung.
Contoh : orang berdiri didepan lemari es yang terbuka
2)   Konduksi
adalah pemindahan panas dari satu benda ke benda lainnya melalui kontak langsung
contoh: kontak langsung dengan es
3)   Konveksi
adalah pemindahan panas yang timbul akibat adanya pergerakan udara.
contoh: udara yang berdekatan dengan badan akan menjadi hangat
4)   Evaporisasi
adalah pemindahan panas yang terjadi melalui proses penguapan.
Contoh: pernapasan dan perspiration dari kulit. keringat meningkatkan pengeluaran panas tubuh.
4.    Interpretasi suhu normal dan abnormal
Menurut Anas dalam Masfuah (2012) suhu tubuh dibagi menjadi :
a.    Hipotermi, bila suhu tubuh kurang dari 36 0C
b.    Normal, bila suhu tubuh berkisar antara 36 – 37,5 oC
c.    Febris/pireksia, bila suhu tubuh antara 37, 5 – 40 oC
d.   Hipotermi, bila suhu tubuh lebih dari 40oC
5.    Lokasi pemeriksaan suhu tubuh
a.    Mulut (oral)
Suhu dapat diambil melaui mulut baik menggunakan termometer kaca klasik atau yang lebih modern termometer digital yang menggunakan probe elektronik untuk mengukur suhu tubuh (Asfuah, 2012).
Keuntungan
1)   Mudah dijangkau dan tidak membutuhkan perubahan posisi
2)   Nyaman bagi klien
3)   Memberi pembacaan suhu permukaan yang akurat
Kerugian:
1)      Tidak boleh dilakukan pada klien yang bernapas lewat mulut
2)      Tidak boleh dilakukan pada klien yang mengalami bedah oral, trauma oral, riwayat epilepsi, atau gemetar akibat kedinginan
3)      Tidak boleh dilakukan pada bayi, anak kecil, anak yang sedang menangis atau klien konfusi, tidak sadar atau tidak kooperatif
4)      Risiko terpapar cairan tubuh
Pengukuran suhu tubuh oral:
Probe harus tetap pada sublingual untuk periode  waktu  tertentu  untuk memastikan pengukuran oral akurat.  Periode ini umumnya beberapa detik untuk   thermometer elektronik kontak dalam model prediktif, tetapi pada model monitor pengukuran yang sama  mungkin memakan waktu tiga menit atau lebih. Satu menit diperlukan untuk termometer kimia. Waktu pengukuran yang diperlukan ditentukan oleh waktu yang dibutuhkan untuk suhu probe untuk menyeimbangkan dengan yang area kontak.
b.   Anus (rectal)
Suhu yang diambil melalui dubur (menggunakan termometer gelas atau termometer digital) cenderung 0,5 – 0,7 derajat lebih tinggi daripada ketika diambil melalui mulut (Asfuah, 2012).
Keuntungan :
1)   Terbukti lebih dapat diandalkan bila suhu oral tidak dapat diperoleh
2)   Menunjukkan suhu inti
Kerugian :
1)      Tidak boleh dilakukan pada klien yang mengalami bedah rektal, kelainan rektal, nyeri pada area rektal, atau cenderung perdarahan
2)      Memerlukan perubahan posisi dan dapat merupakan sumber rasa malu dan ansietas klien.
3)      Risiko terpajan cairan tubuh
4)      Memerlukan lubrikasi
5)      Dikontradiksikan pada bayi baru lahir
Pengukuran suhu tubuh rektal:
Letakan ujung termometer yang telah diberi pelumas, instruksikan klien untuk mengambil napas dalam selaman memasukan termometer, jangan paksakan termometer jika dirasakan ada tahanan.masukan 1/2 inchi (3,5 cm) pada orang dewasa dan 2,5 cm pada anak - anak.
c.    Ketiak (axilla)
Suhu tubuh dapat diambil dibawah lengan dengan menggunakan termometer gelas atau digital. Suhu yang diambil cenderung 0,3 – 0,4 derajat lebih rendah daripada diambil melalui mulut (Asfuah, 2012).
Keuntungan :
1)   Aman dan non-invasif
2)   Cara yang lebih disukai pada bayi baru lahir dan klien yang tidak kooperatif.
Kerugian :
1)      Waktu pengukuran lama
2)      Memerlukan bantuan perawat untuk mempertahankan posisi klien
Pengukuran suhu tubuh aksilla:
Penempatan yang benar dalam pengukuran suhu aksila dan kontak kulit secara langsung adalah penting.  Termometer ditempatkan  dibawah lengan dengan  bagian ujungnya berada di tengah aksila dan jaga agar menempel pada kulit, bukan pada pakaian, pegang lengan anak dengan lembut agar tetap tertutup. Termometer elektronik kontak membutuhkan waktu 5 menit untuk mengukur suhu yang akurat.
d.   Telinga (auricular)
Termometer khusus dengan cepatdapat mengukur suhu gendang telinga yang mencerminkan suhu inti tubuh (suhu dari organ-organ internal) (Asfuah, 2012).
Keuntungan:
1)   tempat mudah dicapai.
2)   perubahan posisi yang dibutuhkan minimal.
3)   memberi pembacaan inti yang akurat.
4)   waktu pengukuran sangat cepat (2-5 detik).
5)   Dapat dilakukan tanpa membangunkan atau mengganggu klien.
Kerugian:
1)   Alat bantu dengar harus dikeluarkan sebelum pengukuran.
2)   Tidak boleh dilakukan pada klien yang mengalami bedah telinga atau membran timpani.
3)   Membutuhkan pembungkus probe sekali pakai.
4)   Impaksi serumen dan otitis media dapat mengganggu pengukuran suhu.
5)   Keakuratan pengukuran pada bayi baru lahir dan anak-anak dibawah 3 tahun masih diragukan.
Pengukuran suhu membrane tympani:
Penempatan termometer adalah pada lubang terlinga, masukan ujung prove thermometer secara perlahan  lahan kedalam saluran telinga yang mengarah ketitik tengah.
6.    Alat pengukuran suhu
a.    Termometer dengan bagian-bagian :
1)   Tabung gelas berbentuk persegi gepeng, bundar, atau persegi
2)   Pipa gelas halus tempat turun naik air raksa
3)   Reservoir air raksa
4)   Air raksa
5)   Skala yang menunjukkan derajat suhu
b.    Botol berisi larutan sabun
c.    Botol berisi larutan lisol 5 %,
d.   Botol berisi air bersih
e.    Tissue dalam tempatnya
f.     Buku catatan dan alat tulis
g.    Bengkok
7.     Metode pengukuran suhu
a.         Mendekatkan alat ke samping klien
b.        Menjelaskan tindakan yang akan dilakukan
c.         Mencuci tangan
d.        Bersihkan termometer yang diambil dari larutan antiseptik, bersihkan/keringkan dari ujung kepangkal termometer, kemudian turunkan air raksa sampai skala nol
e.         Siapkan posisi yang nyaman pada klien : duduk atau supinase dan membersihkan daerah aksila
f.         Passang termometer diaksila selama 5-10 menit
g.        Lepaskan termometer dari aksila dan baca kenaikan air raksa
h.        Turunkan air raksa pada termometer sampai batas minimal dan kemudian bersihkan termometer, kemudian mengelap dari pangkal ke ujung, lalu rendamkan kembali kelarutan antiseptik
i.          Membereskan alat
j.          Mencuci tangan
k.        Mendokumentasikan dalam catatan perawat

E.       RESPIRASI/ PERNAPASAN
1.    Pengertian
Pernapasan pernapasan adalah proses pengambilan oksigen dan pengeluaran karbomndioksida (Asfuah, 2012).
2.    Tujuan
Tujuan menghitung pernafasan adalah :
a.    Mengetahui keadaan umum pasien
b.    Mengikuti perkembangan penyakit
c.    Membantu menentukan salah satu penyokong diagnosa
3.    Anatomi sistem pernapasan
Anatomi pernapasan dimualai dari : hidung, faring, laring, trakea, bronkus, bronkeulus, alveoli, paru - paru
4.    Macam-macam pernapasan
a.    Eupneu : irama dan kecepatan pernapasan normal
b.    Hiperepneu : pernapasan cepat dan dalam
c.    Takepneu : peningkatan kecepatan pernapasan
d.   Bradipneu : pernapasan lambat
e.    Apneu : tidak terdapatnya pernapasn
f.     Chynes-stokes : pernapasan yang secara bertahap menjadi lebih cepat dan lebih dalam dari normal kemudian melambat diselingi oleh periode apneu
g.    Biots : pernapasan cepat dan dari normal dengan berhenti tiba-tiba diantaranya serta pernapasan mempunyai kedalaman yang sama/ pernapasan yang dalam dan dangkal disertai apneu yang tidak teratur (pada pasien meningitis)
h.    Kusmaul adalah inspirasi dan ekspirasi sama panjang dan dalamnya sehingga keseluruhan pernapsan menjadi lambat.
5.    Interpretasi pernapasan normal dan abnormal
Frekuensi napas normal :
Usia baru lahir             : 35 – 50 x/menit
Anak – anak                : 15 – 30x/menit
usia 2-12 tahun            :18 – 26 x/menit
dewasa                                    : 16 – 20 x/menit.
Pernapasan abnormal
a.        Takhipnea : Bila pada dewasa pernapasan lebih dari 24 x/menit
b.      Bradipnea  : Bila kurang dari 10 x/menit
c.       Apnea        : Bila tidak bernapas
6.    Alat pengukuran pernapasan
Persiapan Alat :
a.    Alat penghitung pernafasan (arloji) yang mempunyai jarum detik
b.   Buku catatan dan alat tulis
7.    Metode pengukuran pernapasan
a.    Mendekatkan alat ke samping klien
b.    Menjelaskan tindakan yang akan dilakukan
c.    Mencuci tangan
d.   Hitunglah naik turunnya dada klien (pernafasan) sambil memegang arteri radialis dan menekukkan kedada pasien seperti pura-pura menghitung denyut nadi (mengupayakan agar pasien tidak merasa diobservasi)
e.    Jika irama respirasi teratur hitung selama 30 detik dan kalikan hasilnya dengan 2, jika irama respirasi tidak teratur hitung selama satu menit penuh
f.     Membereskan alat
g.    Menuci tangan
h.    Catat hasil pengukuran pada catatan perawat dan kardek pasien
Metode perhitungan :
Satu pernapasan adalah satu kali menghirup napas dan satu kali mengeluarkan napas (satu kali gerakan nak turun).
Pernapasan dihitung selama 30 detik lalu dikalikan 2 untuk mendapatkan frekuensi pernapasan tiap menit, pada keadaan normal mungkin pernapasan hanya dihitung selama 15 detik lalu hasilx dikalikan 4.


Tidak ada komentar: