Selasa, 23 Oktober 2012

ASFIKSIA

ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR


by: Titik Inayati
Pengertian Asfiksia
Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur (Asuhan Persalinan Normal, 2007).
Penyebab Asfiksia
1.    Faktor ibu : Preeklampsia dan eklampsia, pendarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta), partus lama atau partus macet, demam selama persalinan, infeksi berat (malaria, sifilis, TBC, HIV), kehamilan Lewat Waktu (sesudah 42 minggu kehamilan)
2.    Faktor bayi : Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan), persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ekstraksi vakum, ekstraksi forsep), kelainan bawaan (kongenital) dan air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan)
3.      Faktor Tali Pusat : Lilitan tali pusat, tali pusat pendek, simpul tali pusat, prolapsus tali pusat
Gejala dan Tanda Bayi Asfiksia
• Tidak bernafas atau sulit bernafas (kurang dari 30 X per menit)
• Pernafasan tidak teratur, terdapat dengkuran atau retraksi dinding dada
• Tangisan lemah atau merintih
• Warna kulit pucat atau biru
• Tonus otot lemas atau ekstremitas terkulai
• Tidak ada denyut jantung atau perlahan (kurang dari 100 X per menit)
Langkah-Langkah Penanganan Resusitasi
1.        Letakkan bayi di lingkungan yang hangat kemudian keringkan tubuh bayi dan selimuti tubuh bayi untuk mengurangi evaporasi.
2.        Sisihkan kain yang basah kemudian tidurkan bayi terlentang pada alas yang datar.
3.        Ganjal bahu dengan kain setinggi 1 cm (snifing positor).
4.        Hisap lendir dengan penghisap lendir de lee dari mulut, apabila mulut sudah bersih kemudian lanjutkan ke hidung.
5.        Lakukan rangsangan taktil dengan cara menyentil telapak kaki bayi dan mengusap-usap punggung bayi.
6.        Nilai pernafasanJika nafas spontan lakukan penilaian denyut jantung selama 6 detik, hasil kalikan 10. Denyut jantung > 100 x / menit, nilai warna kulit jika merah / sinosis penfer lakukan observasi, apabila biru beri oksigen. Denyut jantung < 100 x / menit, lakukan ventilasi tekanan positif.
a.    Jika pernapasan sulit (megap-megap) lakukan ventilasi tekanan positif.
b.    Ventilasi tekanan positif / PPV dengan memberikan O2 100 % melalui ambubag atau masker, masker harus menutupi hidung dan mulut tetapi tidak menutupi mata, jika tidak ada ambubag beri bantuan dari mulur ke mulut, kecepatan PPV 40 – 60 x / menit.
c.    Setelah 30 detik lakukan penilaian denyut jantung selama 6 detik, hasil kalikan 10.
1)   100 hentikan bantuan nafas, observasi nafas spontan.
2)   60 – 100 ada peningkatan denyut jantung teruskan pemberian PPV.
3)   60 – 100 dan tidak ada peningkatan denyut jantung, lakukan PPV, disertai kompresi jantung.
4)   < 10 x / menit, lakukan PPV disertai kompresi jantung.
5)   Kompresi jantung
Perbandingan kompresi jantung dengan ventilasi adalah 3 : 1, ada 2 cara kompresi jantung :
a.    Kedua ibu jari menekan stemun sedalam 1 cm dan tangan lain mengelilingi tubuh bayi.
b.    Jari tengah dan telunjuk menekan sternum dan tangan lain menahan belakang tubuh bayi.
7.        Lakukan penilaian denyut jantung setiap 30 detik setelah kompresi dada.
8.        Denyut jantung 80x./menit kompresi jantung dihentikan, lakukan PPV sampai denyut jantung > 100 x / menit dan bayi dapat nafas spontan.
9.        Jika denyut jantung 0 atau < 10 x / menit, lakukan pemberian obat epineprin 1 : 10.000 dosis 0,2 – 0,3 mL / kg BB secara IV.
10.    Lakukan penilaian denyut jantung janin, jika > 100 x / menit hentikan obat.
11.     Jika denyut jantung < 80 x / menit ulangi pemberian epineprin sesuai dosis diatas tiap 3 – 5 menit.
12.    Lakukan penilaian denyut jantung, jika denyut jantung tetap / tidak rewspon terhadap di atas dan tanpa ada hiporolemi beri bikarbonat dengan dosis 2 MEQ/kg BB secara IV selama 2 menit.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Ok..Ok...