Sabtu, 13 September 2014

Nyeri Persalinan


by : Ratih Hermas Purnasari
BAB I
PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang
Persalinan adalah event penting yang sangat ditunggu oleh setiap pasangan suami-istri & persalinan merupakan saat yang akan sangat membahagiakan setiap keluarga. Sayang sekali proses menanti kelahiran ini akan dilalui seorang ibu dengan jam-jam penuh rasa nyeri. Sebagian besar ibu-ibu yang  melahirkan, merasakan nyeri saat persalinan itu dengan intensitasnya sangat berat sehingga ibu-ibu tersebut menjadi sangat menderita.

B.     Tujuan
1.      Tujuan Umum
Agar mahasiswa mampu menjelaskan tentang nyeri persalinan.
2.      Tujuan  Khusus
a.      Agar mahasiswa mampu memahami tentang pengertian nyeri pada          ibu bersalin
b.     Mahasiswa mampu memahami etiologi nyeri persalinan
c.      Mahasiswa mampu memahami mekanisme nyeri persalinan
d.     Mahasiswa mampu memahami faktor yang mempengaruhi nyeri kontraksi
e.      Mahasiswa mampu memahami kecemasan dan ketakutan dalam meningkatkan intensitas nyeri persalinan dan coping mekanisme terhadap nyeri
f.      Mahasiswa mampu memahami metode pengendalian nyeri non farmakologis dan manfaatnya.
g.     Mahasiswa mampu memahami metode pengendalian nyeri farmakologis
h.     Mahasiswa mampu memahami skala nyeri.

BAB II
TINJAUAN TEORI


A.     Pengertian Nyeri Kontraksi

Nyeri kontraksi adalah gerakan memendek dan menebal otot-otot rahim yang terjadi untuk sementara waktu. Kontraksi rahim menyebabkan kontraksi pada mulut rahim (segmen atas rahim) dan menimbulkan rasa nyeri, dan juga rahim bagian bawah (segmen bawah rahim) mengalami dilatasi (peregangan).

B.     Etiologi Nyeri Persalinan

Selama kala I persalinan, penyebab nyeri terutama akibat dari rangsangan reseptor-reseptor adnexa, uterus dan ligamen-ligamen panggul.
Banyak study-syudy yang mendukung teori bahwa nyeri pada kala I persalinan adalah akibat adanya dilatasi servik, segmen bawah rahim, adanya tahanan yang berlawanan, tarikan serta perlukaan pada jaringan otot maupun ligamen yang menopang struktur di atasnya. Teori tersebut dapat dijelaskan dengan pendapat Bonika dan Mc. Donald melalui factor-faktor berikut :
1.       Regangan dari otot-otot halus memberikan rangsangan pada nyeri visceral. Intensitas nyeri yang dialami saat kontraksi berhubungan dengan derajat dan kecepatan dilatasi servik maupun sekmen bawah rahim.
2.       Intensitas dan lamanya nyeri berhubungan dengan munculnya tekanan intrauteri yang berpengaruh pada dilatasi dari struktur tersebut. Pada awal persalinan, tekanan intra uteri terbentuk dan nyeri tampak kira-kira duapuluh detik setelah inisiasi dari kontraksi uterus. Pada akhir persalinan, tekanan intra uteri lebih cepat terbentuk sehingga terjadi nyeri lebih cepat pula.
3.       Saat servik diperlebar secara cepat pada wanita yang tidak bersalin misalnya pada saat dilakukan tindakan digital atau kuret, mereka mengalami nyeri seperti yang dialami oleh ibu bersalin.
Meskipun rangsangan mekanis  dari reseptor lebih besar dalam menghasilkan impuls-impuls nyeri, namun mediatoe chemis (obat-obatan)seperti Bradykinin, prostaglandin, Serotonin, dan asam laktat juga berpengaruh (Brownridge, 1995).
Rangsangan kala I persalinan disalurkan dari jarinagn afferen menembus bagian bawah, tengah dan atas dari pleksus hipogastrik, rantai simpatis lumbal dan torakal bawah menujiu ganglia akar syaraf bawah pada T10 – L1. Nyeri dapat ditransfer dari daerah panggul menuju pusar (umbulikus), paha atas dan daerah pertengahan sacrum.
Dengan penurunan janin pada kala II, rangsang nyeri ditransfer melalui syaraf pudendal menuju pleksus sacrum ke ganglia akar syaraf akar syaraf posterior pada S2 –S4. Selama awal kala II persalinan, Ketika tidak ada tahanan dari servik, nyeri akan muncul akibat dari reganan lanjut dari sekmen bawah rahim. Namun bila janin turun ke rongga panggul, maka nyeri yang muncul disebabkan oleh reganan dari vagina depan dan perineum yang merubah nyeri visceral dalam.
Tekanan dan perlukaan pada fascia, jaringan subkutan dan otot-otot skeletal merangsang reseptor-reseptor dan menggantikan lokasi nyeri bagian luar. Tekanan pada akar-akar dari pleksus lumbo sacral menimbulkan nyeri pada paha, lutut, vagina, perineum dan rectum.

C.    Mekanisme Nyeri Persalinan

Posted on Februari 2, 2009 by idmgarut
ob

Nyeri pada saat persalina menempati score 30-50 score yang ditetapkan Wall dan Mellzack. Score tersebut lebih tinggi dibandingkan sindrom nyeri klinik seperti nyeri punggung yang kronik, nyeri akibat kanker, nyeri tungkai/lengan, nyeri saraf , sakt gigi, memar, nyeri tulang, fraktur, terpotong, serta keseleo.
Rasa nyeri saat persalinan disebabkan oleh kombinasi pereganan segmen bawah rahim dan selanjutnya servik  dan iskemia (hipoksia) otot-otot rahim. Dengan peningkatan kekuatan kontraksi, servik akan tertarik, kontraksi ini juga membatasi pengaliran oksigen pada otot-otot rahim sehingga timbul nyeri iskemik. Keadaan ini diakibatkan oleh kelelahan ditambah lagi dengan kecemasan yang selanjutnya akan menimbulkan ketegangan, menghalangi relaksasi bagian tubuh lainnya dan mungkin pula menyebabkan exhaustion (kehabisan tenaga).
Uterus terbagi atas 3 lapisan otot polos : lapisan longitudinal, lapisan dalam sirkular dan diantara 2 lapisan ini terdapat lapisan dengan otot-otot yang beranyaman “ tikar “ . Seluruh lapaisan otot ini bekerja sama dengan baik, sehingga pada waktu his yang sempurna terdapat sifat –sifat kontraksi yang simetris, kontaraksi fundal dominan, sesudah itu terjadi kontraksi.
Tiap his (kontraksi) dimulai sebagai gelombang dari salah satu sudut dimana tuba masuk kedalam dinding uterus. Di tempat tersebut terdapat suatu pace maker dari mana gelombang his berasal. Gelombang bergerak kedalam dan kebawah dengan kecepatan denagn kecepatan 2 cm per detik untuk mengikutsertakan seluruh uterus.
His yang sempurna mempunayi kejang otot paling tinggi di fundus uteri yang lapisan ototnya paling tebal dan puncak kontraksi terjadi simultan di seluruh bagian uterus. Sesudah tiap his, otot-otot korpus uteri menjadi lebih pendek daripada sebelumnya. Dalam bahasa obstetric disebut retraksi. Oleh karena servik krang mengandung otot maka servik tertarik dan terbuka, lebih-lebih jika ada tekana oleh sebagian besar janin yang keras, misalnya kepala yang merangsang pleksus saraf setempat.
Nyeri akibat kontraksi uterus sebagian besar disebabkan oleh iskemia yang terjadi pada serabut miometrium. Karena serabut lebih banyak dan kontraksi lebih kuat pada segmen atas uterus, nyeri dirasakan lebih hebat pada distribusi kutaneus T12 dan L1.
Banyak wanita sewaktu persalinanya mengeluh nyeri punggung, yang mungkin hebat. Ini terjadi sewaktu dilatasi servik ketika segmen bawah uterus berkontraksi lebih kuat dari biasanya atau ketika tidak timbul triple descending gradiet.
Dalam gate control theory mengenai mekanisme nyeri dinyatakan bahwa misteri dari nyeri sendiri sangat kompleks terutama didemonstrasikan dengan baik oleh fakta bahwa tidak ada satupun kenyataan apakah mekanisme neurofisiologikal yang palsu dari sensasi nyeri.
Mekanisme ini dapat diinisiasi menembus stimulasi kulit melalui pijatan atau akupunktur atau stimulasi pada batang otak, thalamus dan kortek serebral melalui relaksasi, alterasi stimulasi sensori.
Suplai saraf dari celah uterus menuju ke arah dua saraf thorakal (T11 dan T12) melalui paraservikal. Syaraf-syaraf ini menyalurkan nyeri akibat adanya dilatasi servik. Pada akhir kala I syaraf dari T10 dan L1 juga terlibat, karena letaknya yang dekat dengan panggul. Syaraf pudendal memancarkan kembali impuls-impuls nyeri akibat penarikan dinding panggul menuju syaraf sacral (S2, S3 dan S4 ). 

D.    Faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri kontraksi

1.       Intensitas dan lamanya kontraksi rahim
2.       Besarnya janin dan keadaan umum pasien
3.       Pasien dengan primipara pada usia tua dan pada usia muda
4.       Besarnya janin atau jalan lahir yang sempit
5.       Kelelahan dan kurang tidur
6.       kecemasan dan ketakutan
sebagian besar ibu bersalin mengalami rasa nyeri pada waktu melahirkan

E.     Kecemasan dan Ketakutan Dalam Meningkatkan Intensitas Nyeri Persalinan.

Sebagian ibu bersalin mengalami rasa nyeri pada waktu melahirkan, namun intensitas rasa nyeri ini berbeda pada setiap ibu bersalin. Hal ini sering dipengaruhi oleh psikologis ibu saat bersalin (rasa takut dan berusaha melawan persalinan) serta ada tidaknya dukungan dari orang sekitar selama proses persalinan.
Dalam penelitian didapatkan bahwa kecemasan-kecemasan mempengaruhi proses persalinan yaitu dapat menyebabkan partus lama. Hal ini berarti bahwa psikologis mempunyai korelasi terhadap kejadian partus lama yang biasanya terjadi pada kala I dan kala II.
Perpanjangan kala I dapat berupa prolonged laten phase (pembukaan serviks tidak melewati 3cm setelah 8jam inpartum). Pada kala II sering disebut prolonged second stage (pembukaan lengkap,ibu ingin mengedan tapi tidak ada kemajuan penurunan).
Respon fisiologis terhadap nyeri persalinan termasuk hiperfentilasi yang menyebabkan ibu mengalami hiperkarbia (Pa CO2 15-20 mmHg) dan alkalosis respiratiri (PH 7,55-7,60).
Perubahan ini dapat mengakibatkan mual, pusing, kebingungan, kejang, kepucatan dan keringatan. Perantara rangsang nyeri oleh system syaraf otonom yang berpengaruh pada penundaan waktu pengosongan lambung dan menurunkan peristaltic usus.
Dengan demikian disamping faktor fisik,faktor psikis juga perlu diperhatikan dalam persalinan.
Faktor lain yang dapat mempengaruhi persepsi nyeri persalinan antara lain umur, social, ekonomi, palitas, ukuran bayi maupun persentasi bayi dan sebagainya.
Pada ibu-ibu yang sangat muda atau tua dicatat mengalami nyeri yang sangat hebat pada saat persalinan. Paritas juga berpengaruh terhadap persepsi nyeri, pada primigrafida akan lebih nyeri pada awal persalinan sedangkan pada multipara nyeri akan meningkat saat persalinan telah lanjut (saat penurunan janin berlangsung cepat pada kala II).
Terdapat pernyataan bahwa wanita dengan kontarksi uterus yang sangat hebat, ada bayi yang besar atau presentasi bayi tidak normal mengalami persalinan yang lebih hebat.
Terdapat bukti pula bahwa wanita dengan riwayat dismennorea juga dapat mengalami peningkatan perdepsi nyeri yang kemungkinan akibat produksi prostaglandin
Saat ini juga telah ditemukan hubungan yang signifikan antara derajat nyeri persalinan dengan waktu dimulainya tanda – tanda persalinan, dimana skala nyeri lebih rendah pada persalinan kala II yang dimulai pada malam hari.
Penelitian membuktikan bahwa kecemasan berhubungan dengan peningkatan nyeri persalinan. Pengaruh persiapan terhadap persalinan, kenyakinan dan nilai-nilai serta dukungan termasuk dalam koping terhadap nyeri persalinan.
Yang perlu diingat bahwa kecemasan yang sangat dapat meningkatkan produksi rangsang reseptir pada tingkat kortek serebral, dimana akan meningkatkan rangsang reseptor pada daerah panggul karena penurunan aliran darah dan peningkatan otot (Lowe, Midewifery Comuniti-Baced Care).

F.     Coping MekanismTerhdap Nyeri Persalinan

Setiap wanita memiliki reaksi yang berbeda-beda dalam menghadapi persalinan. Respon ini sifatnya sangat individual dan tergantung pada kepribadian, kondisi emosional serta tingkat pemahaman pasien, latar belakang cultural, keluarga serta pendidikan dan pengalaman sebelumnya.
      Wanita yang menjalani persalinan normal dengan pendidikan dan persiapan yang baik perawatan prefentif yang cermat, dukungan serta pendampingan oleh bidan yang kompeten dan dengan analgeti yang tepat waktu serta indikasinya, cenderung untuk memberikan pengalaman persalinan yang  “baik”.
      Persepsi nyeri selama persalinan meningkat jika wanita tersebut gelisah dan takut serta pengetahuan tentang proses persalinan sedikit. Salah satu alas an pelatihan melahirkan adalah untuk mengurangi rasa takut dan memperbaiki pemahaman ibu tentangf melahirkan
Rasa nyeri memiliki m3 komponen:
a.       Stimulus – penyebab nyeri
b.       Ambang batas – tingkat dimana intensitas nyeri terasa
c.       Reaksi- bagaimana seseorang menginterpretasikan dan bereaksi terhadap nyeri tersebut
Coping mechanism (mekanisme pertahanan) adalah proses tidak sadar yang dipakai untuk melindungi diri dari kecemasan. Mekanisme peretahanan tidak memecahkan persoalan atau merubah kondisi kecemasan itu sendiri, malah akan metrubah cara orang-orang berfikir tentang sesuatu yang mengganggunya.
Ambang nyeri dalam persalinan dapat diturunkan oleh rasa takut, kurangnya pengertian dan berbagai permasalahan jasmani seperti: demam, kelelahan, asidosis dehidrasi, ketengangan. Ambang nyeri dapat dinaikkan oleh penggunaan obat-obatan, kesehatan fisik serta psikologik, relaksasi dan pengalihan perhatian.
Rasa nyeri persalinan dapat dikurangi baik itu menggunakan metode farmakologik maupun nonfarmakologik yang mana terkait dengan 3 tujuan dasar pengurangan nyeri dalam persalinan yaitu :
1.       Mengurangi perasaan nyeri dan tenang sementara pasien dalam keadaanterjaga seperti yang dikehendakinya
2.       Menjaga agar pasien dan janinnya sedapat mungkin terbebas dari efek depresif yang timbul oleh  obat
3.       Mencapai tujuan ini tanpa mengganggu kontraksi otot rahim




G.    Metode pengendalian nyeri non farmakologis Dalam Mengurangi Nyeri Persalinan

1.       Posisi ibu dan perubahan posisi
Studi dari berbagai kultur terhadap berbagai pilihan-pilihan posisi wanita selama persalinan meyakini bahwa wanita mempunyai kecenderungan untuk memilih macam-macam posisi dan sering merubah posisisnya selama proses persalinan dan kelahiran.
Secara medis anggapan bed rest selama persalina adalah pada saat ibu membutuhkan istirahat lebih banyak pada ibu bersalin dengan komplikasi serta adanya kesulitan untuk bergerak karena adanya intervensi seperti pemberian cairan intra vena, pelaksanaan vetal monitoring secara terus menerus, dan juga pada pemberian sedativ atau anastesia.
Pada saat para peneliti mengobservasi wanita dalam persalinan yang tidak dilakukan pengaturan terhadap posisinya, mereka mencatat seringnya perubahan posisi dimana kecenderungan wanita memilih posisi torso vertical (seolah terpuntir ke atas).
Perubahan posisi termasuk ambulasi, telah diteliti hubungannya dengan pemakaiannya medikasi secara minimal untuk mengurangi nyeri persalianan, kontraksi uterus menjadi lebih efektif dan meningkatkan kesadaran ibu terhadap pengaturan kelahiran.
Manfaat dari macam-macam posisi perubahan posisi seperti penjelasan pada table berikut
No
POSISI
PEN
1
Berdiri
Gaya gravitasi berpengaruh terhadap penurunan bagian bawah janin: sumbu bawah janin menyesuaikan diri dengan sumbu panggul ibu; kontraksi uterus sedikit menimbulkan nyeri sehingga lebih efektif; dapat meningkatkan dorongan untuk mengejan akibat tekakan bagian tebawah janin.
2
Berjalan
Dengan gerakan membuat perubahan dalam persendian panggul sehingga membantu rotasi dan penurunan bagian terbawah janin.
3
Berdiri dan bersandar pada pasangan atau sambil menempelkan muka pada dinding
Membantu mengurangi nyeri; memberi kesempatan terhadap pemberian massage dan tekanan; memungkinkan untuk lebih santai diantara kontraksi
4
Bersandar sambil menggoyangkan badan
Dengan gerakan membuat perubahan dalam persendian panggul; dengan pelukan suami akan meningkatkan perasaan bahagia dan nyaman; massage dan pressure dapat dilakukan sambil bergerak.
5
Jongkok: membuka kaki dengan lutut ditekuk sambil melebarkan yang lainnya
Dapat meningkatkan diameter-diameter panggul dan merangsang untuk mengejan.
6
Jongkok ke samping saat kontraksi
Dapat membantu terjadinya rotasi dari posisi janin yang occipitoposterior
7
Duduk tegak
Merupakan posisi istirahat terbaik; menyediakan pengaruh grafitasi ; dapat digunakan untuk mementau kondisi janin
8
Duduk di toilet
Dapat membantu merelekkan perineum saat mengejan
9
Setengah duduk
Sama dengan keuntungan dari posisi tegak
10
Duduk bersandar dengan penopang
Mengurangi nyeri punggung
11
merangkak
Membantu mengurangi nyeri pubggung; membantu rotasi janin dari posisi OP; memfasilitasi pergerakan panggul; menghindari tekanan pada hemorroid dan varicositas vulva
12
Berlutut dengan penopang
Mengurangi tahanan pada tangan dan pergelangan
13
Miring kekiri
Merupakan posisi istirahat yang paling baik; sering dipakai untuk intervensi yang mendesak; baik digunakan untuk mengatur kecepatan pada kala II ; memudahkan untuk istirahat diantara kontraksi selama akhir kala satu dan pada kala dua persalinan.




2.       Pijatan (Massage)
Pijatan digunakan untuk membantu relaksasi dan menurunkan nyeri melalui peningkatan aliran darah pada daerah daerah yang terpengaruh, merangsang reseptor-reseptor raba pada kulit sehinnga merilekskan otot-otot,perubahan suhu kulit,dan secara umum memberikan perasaan nyaman yang berhubungan dengan keeratan hubungan manusia.
Pijatan dapat bernacam macam bentuk mulai dariusapan ringan (belaian), sampai dengan pijatan mendalam pada kulit dan struktur di bawahnya.Hal ini diyakini bahwa dapat merangsang pengeluaran dari hormone endorphin,mengurangi produksi hormone catecholamine,dan merangsang hasil dari serabut syaraf afferent dalam memblokir trnsmisi rangsang nyeri(gate control theory).
Hedstrom dan Newton (1986), dalam studi klasiknya terhadap penggunaan sentuhan dalam persalinan,menemukan bahwa sentuhan merupakn
An metode yang digunakan secara umum dalam persalinan untuk membantu mengurangi nyeri.
3.       Tekana (pressure) dan Tekanan yang kuat (Counterpresure).
Akupressurre merupakan pedaketan pengobatan timur kuno dimana menggunakan pijatan pada bagian tertentu dari tubuh (garis aliran energi) untuk menurunkan nyeri atau mengalihkan fungsi organ.Manfaat manfaat yang mendasari dalam pengobatan kuno menjelaskan pengaruh aliran energi atau pembebasan sumbatan aliran energi.Penjelasan lain mengenai manfaat dari akupresurre adalah dapat meningkatkan hormone endorphin local.
Penelitian terhadap penggunaan akupresurre dalam persalinan masih terbatas, namun demikian tehnik ini digunakan di Negara Negara Asian dan termasuk dalam psikopropilaktik murni yang dilaksanakan di Rusia mengingat manfaatnya yang sangat besar tersebut. Sebuah publiksi penelitian disebuah jurnal medis Amerika mencatat afektifitas dari akupresurre terhadap stimulasi dan rangsangan persalinan serta pencegahan persalinan preterm (tsueii, lai, dan sharma).
Tekanan pada akupresurre dilakukan dengan menggunakan ujung ujung jari atau ibu jari diatas titik akupresurre, salah satunya adalah sebuah tekanan menetap atau suatu kekuatan dalam gerakan kecil melingkar (jungman, maternity nursing).
Stimulasi spesifik diperoleh melalui akupressurre dengan penambahan dukungan kehadiran seseorang. Penambahan dukungan secara umum melalui penyampaian petunjuk yang di akui sebagai syarat seperti relaksasi,sisualisasi dan pengaturan nafas.Pengaruh dari kombinasi metode metode tersebut merupakan efek sinergi yang alamiah.
Counterpressurre merupakan tekanan yang cukup kuat pada titik tertentu dipunggung bawah selama kontraksi dengan menggunakan ujung jari atau alat tertentu atau tekanan menggunakan kepalan kedua tangan secara kuat.Hal ini dapat dilakukan oleh bidan maupun keluarga yang mendampingi ibu.Metode ini sangat bermanfaat untuk mengurangi nyeri yang hebat terutama di daerah pinggang belakang saat dimana terjadi posisi oksipito posterior.
4.       Distraksi
Dari hasil penilitian dan observasi klinik menunjukkan bahwa strategi distraksi merupakan teknik yang sangat kuat untuk membuat nyeri yang sangat hebat dapat ditahan.
Terapi sentuhan atau usapan merupan metode distraksi dari praktek rakyat (tradisional) dengan belaian tangan pada bagian tubuh tertentu yang membutuhkan.
Pendekatan teknik distraksi sebagian besar diambil dari metode Lamaze yang telah melahirkan ide-ide seperti metode-metode persiapan persalinan dengan melakukan konsentrasi pada relaksasi melalui pengaturan nafas selama kontrasi. Dengan irama nafas yang teratur menghasilkan pengurangan nyeri serta oksigenasi yang adekuat bagi uterus.
Selain pengturan nafas, perubahan posisi dan usapan pada daerah perut juga dilakukan untuk membantu mengalihkan rasa nyeri, dimana hal ini membutuhkan upaya kognitif dan motorik dari pasien. Menjaga mata tetap terbuka dan memusatkan pandangan pada suatu objek tertentu merupakan metode distraksi yang paling ringan dan mudah.
Pada umumnya metode Lamaze mengajarkan pada ibu suatu upaya yang kuat untuk mengalihkan rasa nyeri melalui berbagai aktifitas seperti tersebut diatas.
Saat ini, distraksi dalam bentuk lain adalah dengan menambahkan satu atau lebih tekhnik lain terhadap tekhnijk pengaturan nafas dari Lamaze, antara lain: konsentrasi, usapan perut, kesunyian, nyanyian dengan irama 4/4 untuk di koordinasikan dengan irama nafas dan sebagainya. Meskipun banyak cara untuk distraksi selam akontraksi, namun bidan tidat semua cara tersebut pada ibu di setiap fase persalinan. Pada awal persalinan mungkin ibu dapat menggunakan distrsksi melalui penyampaian nasehat selama kontraksi, akan tetapi menjelang akhir persalinan hal itu justru akan membuat ibu mudah tersinggung. Pada akhir persalinan yang lebih di harapkan oleh ibu adalah agar bidan melakukan sesuatu untuk membantunya menguranginyeri selama kontraksi.
Bantuan bidan akan bermanfaat bila dilakukan diantara kontraksi, bukan pada saat kontraksi. Ibu akan memilih satu dari tekhnik-tekhnik yang dianggap enak dan mudah untuk dicoba. Hal ini akan lebih efektif bila bidan mendemonstrasikan terlebih dahulu baru ibu mengikuti.
5.       Teknik Deep Relaxation (relaksasi mendalam) pada proses persalinan.
Deep relaksation yang saat ini telah dikombinasikan dengan penambahan sugesti atau disebut hipnoBirthing merupakan sebuah paradigma baru dalam pengajaran melahirkan secara alami. Tekhnik ini mudah dipelajari, melibatkan relaksasi yang mendalam, pola pernafasan lambat, dan petunjuk cara melepaskan endorphin dari dalam, tubuh yang menungkinkan calon ibu men9ikmati proses kelahiran yang aman, lembut, cepat dan tanpa proses pembedahan. Terapi ini mengajarkan para ibu untuk memahami dan melepaskan Fear-Tension-Pain Syndrome (kumpulan gejala yang berhubungan dengan rangkaian nyeri-tekanan-ketakutan) yang sering kali menjadi penyebab kesakitan dan ketidaknyamanan selama proses kelahiran.
Saat kita merasa takut, tubuh mengalihkan darah dan oksigen dari organ pertahanan non esensial menuju kelompok otot besar diwilayah kaki dan tangan. Akibatnya, area wajah menjadi berubah warna, makanya ada ungkapan pucat karena ketakutan.
Dalam situasi yang menakutkan, tubuh mempertimbangkan bahwa uterus atau rahim dipandang sebagai organ tidak penting. Menurut Dr. Dick-Read rahim pada perempuan yang ketakutan secara kasat mata memang tampak putih.
Hypno Birthing mengeksplorasi mitos bahwa memang rasa sakit adalah hal yang wajar diutuhkan saat melahirkan normal. Saat perempuan yang melahirkan terbebas dari rasa takut, otot-otot di tubuhnya termasuk otot rahim akan mengalami relaksasi, yang akan menbuahkan proses kelahiran yang lebih mudah dan bebas stress.
Dalam beberapa khasus, tahapan proses kelahiran juga menjadi lebih pendek, mengurangi kelelahan selama perjuangan melahirkan bayi dan ibu akan tetap segar, penuh energi setelah melahirkan.
Mempelajari sebuah bahasa baru melahirkan merupakan kesatuan dalam pelatihan HypmoBirthing. Misalnya, daripada focus pada kontraksi, seorang ibu yang mendalami HypnoBrithing mengalami sebuah ‘gelora’. Saat alam bawah sadar ibu meneriama kata ‘ gelora’ tubuhnya menciptakan jawaban fisiologis seketika, sebuah respon yang amat berbeda dari kata ‘ kontraksi’.
Dengan memahamibetapa efektifnya jawaban tubuh terhadap proses melahirkan yang lebih lembut, seorang ibu HypnoBrithing memiliki keahlian secara lisan dan visual mengenai kemampuan alaminya dalam mengikuti cara alami ideal melahirkan.
Keterangan fisiologis untuk semuanya adalah simple, karena adanya ketakutan, begitu persalinan akan dimulai, respon alami (dengan tubuh mengalirkan Adrenalin sebagai hormone perangsang ketakutan dalam perlawanan/kumpulan syndrome).

Suatu cara untuk melindungi tubuh, respon anatomis yaitu dengan jantung berdetak lebih cepat, nafas lebih cepat, mata melebar dan aliran darah menempatkan diri pada saluran otot-otot non esensial. Di sini terdapat dua salur dari otot-otot uterus – satu vertical dan satu sirkuler, yang bekerja bersamaan untuk membuka serviks dan mendorong dengan mantap, bayi keluar. Jika otot-otot  tersebut dirileks kan, ia akan dapat berfungsi dengan semestinya.
Latihan-latihan autohypnosis dan relaksasi sedang dikembangkan di Indonesia, tak hanya untuk meredakan kecemasan atau depresi, melainkan juga memudahkan proses persalinan dan meredakan rasa sakit.
Berikut adalah tips-tips untuk melakukan relaksasi saat persalinan :
a.       Sebaiknya, kita selalu ingat bahwa kehamilan adalah anugrah dari Yang Maha Kuasa. Bukankah tak semua wanita diberi kesempatan untuk hamil dan memiliki anak? Keyakinan seperti ini bisa menjadi dasar untuk menjalani kehamilan dengan relaks, nyaman, santai, dan bersukacita.
b.       Bila masih terasa berat, hindarilah perasaan-perasaan sesal kenapa harus menjalini kehamilan. Tanamkan pada diri sendiri bahwa kehamilan hanya berjalan sembilan bulan, setlah itu akan lahir bayi mungil yang sangat dinantikan. Bayi yang lahir nanti adalah hadiah yang sangat luar biasa.
c.       Bila muncul ketegangan perasaan, kekakuan pada otot, pegal-pegal, cobalah melakukan relaksasi dengan cara melakukan peraturan nafas. Ambil posisi yang paling nyaman dengan mencoba sesantai mungkin. Bisa dalam posisi duduk atau berbaring sambil memejamkan mata. Relaksasikan otot-otot seluruh tubuh, mulai dari otot kaki, pinggang, punggung, leher dan wajah. Bernapaslah lewat hidung, tarik dan embuskan perlahan-lahan. Ulangi selama 10 sampai 20 menit atau sampai kita merasa nyaman. Sambil melakukannya, tekan perut kearah luar. Hitunglah sampai empat. Biarkan otot pundak dan leher kita relaks. Lalu, keluarkan napas perlahan-lahan dan tenang.
d.      Bila punya risiko psikologis tinggi, misalnya akibat tidak menghendaki kehamilan, sebaiknya dibimbing oleh ahli, seperti dokter spesialis kejiwaan. Soalnya, permasalahan yang dialami ibu sudah sangat berat dan sulit diatasi sendiri atau oleh bantuan orang awam
e.       Faktor penting untuk mendukung relaksasi ibu hamil adalah keterlibatan emosi dari pihak suami. Mintalah suami untuk lebih empati ketika istri sedang menjalani kehamilan. Dukungan suami merupakan hal yang sangat penting.
f.        Ibu hamil yang masih tetap bekerja, sedapat mungkin menghindari stress pekerjaan. Rencanakan pekerjaan seefektif mungkin agar tidak menjadi sebuah beban yang bisa menimbulkan stress.
g.       Kesibukan di tempat kerja kadang menjadi bea\ban tersendiri. Sesekali minta suami untuk meringankan beban. Misalnya dengan memintanya untuk memijat bagian-bagian yang terasa kaku dan perlu dilemaskan. Pijatan lembut, selain dapat menghilangkan kejenuhan dan pegal-pegal selama bekerja, juga dapat menimbulkan rasa tenang dan akan sangat berpengaruh pada janin.
h.       Luangkanlah waktu untuk berbincang bertiga : ibu, suami, dan janin. Hal ini merupakan hiburan yang cukup berarti bagi ibu hamil dan akan menambah rasa tenang dan nyaman.
i.         Berkomunikasi dengan janin bukan sesuatu yang dilarang. Meskipun dia masih berada dalam rahim, janin sudah bisa mendengar apa yang diutarakan ibunya. Komunikasi ini bisa memicu keeratan hubungan antara ibu dan janin, yang bisa menambah rasa percaya diri si ibu sehingga perasaan relaks bisa muncul lebih kuat. Waktu terbaik untuk berbincang dengan janin adalah sekitar jam 7 sampai 8 malam.
6.       Pendampingan suami selama persalinan.
Pada masa lampau seorang suami tidak diperbolehkan menemani isterinya pada saat-saat kelahiran untuk menghindari infeksi dalam ruangan bersalin. Suami dianggap salah satu penyebab adanya kontaminasi.
Tetapi pada jaman kini keterlibatan seorang suami pada masa kehamilan tidaklah berhenti di ruangan tunggu rumah sakit saja. Suami tidak lagi dianggap sebagai orang asing didalam ruangan bersalin.
Dari survey daftar pertanyaan yang diselenggarakan di Eropa, WHO mengemukakan bahwa suami mungkin sangat dibtuhkan kehadirannya di Rumah Sakit sebanyak 12 dari 23 negara (WHO 1985).
Suami hadir dalam persalinan dengan dua pertimbangan. Pertama memberikan pernyataan pada isteri bahwa proses persalinan merupakan sebuah pengalaman yang positif. Alasan kedua bahwa dengan kehadiran suami dalam persalinan, maka suami dapat merasakan gambaran dari proses persalinan tersebut.
Banyak peneliti lain memperkuat bahwa kehadiran seorang suami sangat bernilai pada saat kelahiran. Dorris R Entwisle dan Susan G. Doering membandingkan seorang suami yang menenmani isterinya hanya pada tahap kedua saja dengan suami yang tidak terlibat sama seklai. Ternyata kehadiran suami akan menambah pengalaman emosi positif pada isteri. Kaum ibu lebih sering mengatakan, kelahiran bagaikan suatu pengalaman puncak baginya jika suami hadir pada peristiwa itu.
Peneliti Entswile dan Doering terhadap yang tidak diijinkan dalam ruang bersalin, ternyata 80% mengalami perasaan negative dan kecewa. Tetapi sebaliknya suami yang hadir pada saat istrinya melahirkan mengungkapkan perasaan antusias dengan pengalaman itu, 90 % mengatakan “saya merasa kagum”. Dalam penelitian yang sama, ternyata lebih banyak suami yang menjamin bayi selama dalam ruangan bersalin, yakni suami sebanyak 51% dan ibu 25%. Kontak awal ini akan membawa dampak bagi proses hubungan suami dengan anak dan isterinya selanjutnya.
Dengan demikian kehadiran seorang suami selama proses persalinan, tujuannya tidak lain adalah menghadirkan suasana rumah menghadirkan situasi keluarga ke rumah sakit dan memberikan makna kekeluargaan bagi peristiwa kelahiran itu.
Meskipun hasil berbagai penelitian itu bermaksud mempertajam pentingnya kehadiran suami dalam peristiwa kelahiran namun tidak mudah member kesimpulan akhir. Kebanyakan suami yang mau melakukan ini masih bersifat sukarela dan mungkin hanya sebagian kecil suami yang bersedia untuk itu.
7.       Hipnotik
Hipnotik dapat mengurangi sensasi nyeri untuk wanita dalam prosess melahirkan cecaria. Metode ini tidak afektif untuk semua orang, dipilih yang ada manfaatnya untuk wanita. Hipnotik fleksibel tidak ada yang tahu efeknya, seperti hipotensi, muntah respirasi bayi dengan depresi.
8.       Relaksasi
Menurut Steer, relaksasi adalah metode pengendalina nyeri non farmakologik yang paling sering digunakan di Inggris. Metode ini menggunakan pendidikan dan latihan pernafasan dengan prinsip wanita dapat mengurangi nyeri denmgan cara mengurangi sensasi nyeri dan mengontrol intensitas reaksi terhadap nyeri.
Relaksasi dapat dilakukan dengan cara ciptakan lingkungan yang tenang , tentukan posisi yang nyaman , konsentrasi pada suatu objek atau bayangan visual, lepaskan ketegangan.
Substansi alamiah yang berperan sebagai anestesi alamiah dalam tubuh kita saat melakukan relaksasi disebut endorphin , merupakan kombinasi dari zat – zat endogen serta morphin., yang mana mampu mempengaruhi pesan – pesan nyeri dari luar dan mempunyai efek penekan rasa sakit. Trasmisi dari impuls – impuls nyeri menuju tingkatan cortical awarness dapat dinyatakan kedalam 3 cara sebagai berikut :
a.       Aktifitas dalam sebagian besar dan sebagian kecil serat – serat syaraf sensoris
b.       Proyeksi dari formasi “ Brain Stem Reticular “
c.       Proyeksi dari kortek serebral dan thalamus.

H.    Manfaat Metode Pengurangan Nyeri Nonfarmakologis

1.   Efektif.
2.   Biayanya rendah.
3.   Resiko rendah.
4.   Kemajuan persalinan meningkat.
5.   Hasil kelahiran bertambah baik.
6.   Bersifat sayang ibu.

I.       Metode Mengatasi Nyeri Farmakologis.

1.       Obat pengurang rasa nyeri
Pada beberapa kasus gawat darurat obstetri,penderita dapat mengalami rasa nyeri yang membutuhkan pengobatan segera. Pemberian obat pengurang rasa nyeri jangan sampai menyembunyikan gejala yang sangat penting untuk menentukan diagnosis.Hindarilah sedasi berlebihan.Obat narkotika dapat menekan pernafasan. Hindarilah penggunaan narkotika pada kasus yang dirujuk tanpa didampingi petugas kesehatan, terlebih lagi petugas tanpa kemampuan untuk mengatasi depresi pernafasan .
2.       Anastesi.
3.       Anastesi umum
4.       Teknik Spinal ( ILA, Intra Techal Labour Analgesia )
Tehnik ini prinsipnya sama, hanya penangan nyerinya hanya terbatas hingga bayi lahir. Karena tidak ada insersi kateter (selang) ke tulang belakang sehingga obat hanya diberikan one shot dengan durasi 2-4 jam saja.
5.       Teknik Epidural ( ELA )
Salah satu cara yang sangat efektif adalah dengan teknik bebas nyeri secara epidural. Dengan menggunakan larutan obat anestetik lokal atau opioid dengan konsentrasi tertentu yang dimasukkan lewat kateter halus di tulang belakang , ibu tersebut tidak mengalami rasa nyeri lagi dan juga tidak akan mengalami perubahan hemodinamik dan gangguan fungsi motorik.
Kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran memungkinkan cara ini dapat dikerjakan tanpa dirasakan nyeri oleh ibu yang sedang dalam proses persalinan, dan cara ini dapat dikerjakan sejak awal karena tidak akan mengganggu perjalanan persalinan kala I. Selama program bebas nyeri dengan cara ini, ibu-ibu tersebut tidak akan mengalami gangguan fungsi motorik, artinya tenaga gerak tungkai dan kekuatan mengeden tidak akan terganggu.
Penelitian sudah membuktikan bahwa tindakan bebas nyeri saat persalinan secara epidural tidak mempunyai efek yang mengakibatkan persalinan akhirnya harus dilaksanakan secara operasi Seksio Caesaria. Sama sekali tidak seperti itu. Kalaupun akhirnya persalinan harus dilakukan dengan tindakan operasi Seksio Caesaria, mungkin sekali disebabkan oleh suatu masalah, yaitu memang sejak awal ada suatu kelainan yang tidak memungkinkan terjadinya persalinan secara normal yang mengakibatkan timbulnya rasa nyeri secara berlebihan (distosia).

J.      Faktor yang Mempengaruhi  Nyeri

1.       Usia
Anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga perawat harus mengkaji respon nyeri pada anak. Pada orang dewasa kadang melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi. Pada lansia cenderung memendam nyeri yang dialami, karena mereka mengangnggap nyeri adalah hal alamiah yang harus dijalani dan mereka takut kalau mengalami penyakit berat atau meninggal jika nyeri diperiksakan.
2.       Jenis kelamin
Gill (1990) mengungkapkan laki-laki dan wnita tidak berbeda secara signifikan dalam merespon nyeri, justru lebih dipengaruhi faktor budaya (ex: tidak pantas kalo laki-laki mengeluh nyeri, wanita boleh mengeluh nyeri).


3.       Kultur
Orang belajar dari budayanya, bagaimana seharusnya mereka berespon terhadap nyeri misalnya seperti suatu daerah menganut kepercayaan bahwa nyeri adalah akibat yang harus diterima karena mereka melakukan kesalahan, jadi mereka tidak mengeluh jika ada nyeri.
4.       Makna nyeri
Berhubungan dengan bagaimana pengalaman seseorang terhadap nyeri dan dan bagaimana mengatasinya.
5.       Perhatian
Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat mempengaruhi persepsi nyeri. Menurut Gill (1990), perhatian yang meningkat dihubungkan dengan nyeri yang meningkat, sedangkan upaya distraksi dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun. Tehnik relaksasi, guided imagery merupakan tehnik untuk mengatasi nyeri.
6.       Ansietas
Cemas meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan nyeri bisa menyebabkan seseorang cemas.
7.       Pengalaman masa lalu
Seseorang yang pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa lampau, dan saat ini nyeri yang sama timbul, maka ia akan lebih mudah mengatasi nyerinya. Mudah tidaknya seseorang mengatasi nyeri tergantung pengalaman di masa lalu dalam mengatasi nyeri.
8.       Pola koping
Pola koping adaptif akan mempermudah seseorang mengatasi nyeri dan sebaliknya pola koping yang maladaptive akan menyulitkan seseorang mengatasi nyeri.
9.       Support keluarga dan sosial
Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada anggota keluarga atau teman dekat untuk memperoleh dukungan dan perlindungan.

K.    Intensitas Nyeri

Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda oleh dua orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Namun, pengukuran dengan tehnik ini juga tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri (Tamsuri, 2007).
Menurut smeltzer, S.C bare B.G (2002) adalah sebagai berikut :
1.    Skala intensitas nyeri deskritifskala intensitas nyeri deskritif
2.    Skala identitas nyeri numerik
Skala identitas nyeri numerik
3.    Skala analog visual
Skala analog visual
4.    Skala nyeri menurut bourbanis
Skala nyeri menurut bourbanis
Keterangan :
0          : Tidak nyeri
1-3       : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik.
4-6       : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis, menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik.
7-9       : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi
10        : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul.
Karakteristik paling subyektif pada nyeri adlah tingkat keparahan atau intensitas nyeri tersebut. Klien seringkali diminta untuk mendeskripsikan nyeri sebagai yang ringan, sedang atau parah. Namun, makna istilah-istilah ini berbeda bagi perawat dan klien. Dari waktu ke waktu informasi jenis ini juga sulit untuk dipastikan.
Skala deskritif merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri yang lebih obyektif. Skala pendeskripsi verbal (Verbal Descriptor Scale, VDS) merupakan sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai lima kata pendeskripsi yang tersusun dengan jarak yang sama di sepanjang garis. Pendeskripsi ini diranking dari “tidak terasa nyeri” sampai “nyeri yang tidak tertahankan”. Perawat menunjukkan klien skala tersebut dan meminta klien untuk memilih intensitas nyeri trbaru yang ia rasakan. Perawat juga menanyakan seberapa jauh nyeri terasa paling menyakitkan dan seberapa jauh nyeri terasa paling tidak menyakitkan. Alat VDS ini memungkinkan klien memilih sebuah kategori untuk mendeskripsikan nyeri. Skala penilaian numerik (Numerical rating scales, NRS) lebih digunakan sebagai pengganti alat pendeskripsi kata. Dalam hal ini, klien menilai nyeri dengan menggunakan skala 0-10. Skala paling efektif digunakan saat mengkaji intensitas nyeri sebelum dan setelah intervensi terapeutik. Apabila digunakan skala untuk menilai nyeri, maka direkomendasikan patokan 10 cm (AHCPR, 1992).
Skala analog visual (Visual analog scale, VAS) tidak melebel subdivisi. VAS adalah suatu garis lurus, yang mewakili intensitas nyeri yang terus menerus dan pendeskripsi verbal pada setiap ujungnya. Skala ini memberi klien kebebasan penuh untuk mengidentifikasi keparahan nyeri. VAS dapat merupakan pengukuran keparahan nyeri yang lebih sensitif karena klien dapat mengidentifikasi setiap titik pada rangkaian dari pada dipaksa memilih satu kata atau satu angka (Potter, 2005).
Skala nyeri harus dirancang sehingga skala tersebut mudah digunakan dan tidak mengkomsumsi banyak waktu saat klien melengkapinya. Apabila klien dapat membaca dan memahami skala, maka deskripsi nyeri akan lebih akurat. Skala deskritif bermanfaat bukan saja dalam upaya mengkaji tingkat keparahan nyeri, tapi juga, mengevaluasi perubahan kondisi klien. Perawat dapat menggunakan setelah terapi atau saat gejala menjadi lebih memburuk atau menilai apakah nyeri mengalami penurunan atau peningkatan (Potter, 2005).

L.     Nyeri Berdasarkan Durasinya

1.    Nyeri akut
Nyeri yang terjadi segera setelah tubuh terkena cidera,  atau intervensi bedah dan memiliki awitan yan cepat, dengan intensitas bervariasi dari berat sampai ringan. Fungsi nyeri ini adalah sebagai pemberi peringatan akan adanya cidera atau penyakit yang akan datang.  Nyeri ini terkadang bisa hilang sendiri tanpa adanya intervensi medis, setelah keadaan pulih pada area yang rusak.  Apabila nyeri akut ini muncul, biasanya tenaga kesehatan sangat agresif untuk segera menghilangkan nyeri. Nyeri akut secara serius mengancam proses penyembuhan klien, untuk itu harus menjadi prioritas perawatan. Rehabilitasi bisa tertunda dan hospitalisasi bisa memanjang dengan adanya nyeri akut yang tidak terkontrol.
2.    Nyeri kronik
Nyeri kronik adalah nyeri konstan atau intermiten yang menetap sepanjang suatu periode tertentu, berlangsung lama, intensitas bervariasi, dan biasanya berlangsung lebih dari enam bulan. Nyeri ini disebabkan oleh kanker yang tidak terkontrol, karena pengobatan kanker tersebut atau karena gangguan progresif lain. Nyeri ini bisa berlangsung terus sampai kematian. Pada nyeri kronik, tenaga kesehatan tidak seagresif pada nyeri akut. Klien yang mengalami nyeri kronik akan mengalami periode remisi (gejala hilang sebagian atau keseluruhan) dan eksaserbasi (keparahan meningkat).  Nyeri ini biasanya tidak memberikan respon terhadap pengobatan yang  diarahkan pada penyebabnya. Nyeri ini merupakan penyebab utama ketidakmampunan fisik dan psikologis. Sifat nyeri kronik yang tidak dapat diprediksi membuat klien menjadi frustasi dan seringkali mengarah pada depresi psikologis. Individu yang mengalami nyeri kronik akan timbul perasaan yan gtidak aman, karena ia tidak pernah tahu apa yang akan dirasakannya dari hari ke hari.
Perbedaan karakteristik nyeri akut dan kronik
 Nyeri akut
Nyeri kronik
·         Lamanya dalam hitungan menit
·         Ditandai  peningkatan BP, nadi, dan respirasi
·         Respon pasien:Fokus pada nyeri, menyetakan nyeri menangis dan mengerang
·         Tingkah laku menggosok bagian yang nyeri
·         Lamanyna sampai hitungan bulan, > 6bln
·         Fungsi fisiologi bersifat normal
·         Tidak ada keluhan nyeri
·         Tidak ada aktifitas fisik sebagai respon terhadap nyeri







BAB III
PENUTUP


A.     Kesimpulan

Nyeri saat persalinan timbul akibat kontraksi uterus, dan itu merupakan suatu proses yang alami, yang pasti dirasakan oleh setiap ibu saat persalinan. Namun rasa nyeri saat persalinan itu dapat di kurangi dengan berbagai tehnik diantaranya yaitu distraksi, relaksasi.hipnotik, dan masih banyak tehnik yang lain.

B.     Saran

Ibu yang mengalami nyeri saat bersalin, di saran kan untuk melakukan tehnik – tehnik untuk mengurangi rasa nyeri yang diajarkan oleh tenaga kesehatan.

Tidak ada komentar: